banner pilkada 2024
banner hut ri

Ratusan Kapal Nelayan Menghiasi Laut, Iringi Sesaji Petik Laut

Probolinggo – Ribuan mata menatap megahnya pemandangan tradisi petik laut di perairan Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Ratusan kapal nelayan, terhias merah-putih, menyatukan langkah dalam sebuah prosesi yang merayakan kekayaan laut.

Sepanjang tahun, kegiatan petik laut telah menjadi agenda rutin yang tak pernah pudar.

Dan pada hari Sabtu, 26 Agustus 2023, momen sakral itu kembali merangkak memasuki jajaran kalender kehidupan masyarakat pesisir.

Camat Mayangan, Agus Dwi Wantoro, dengan sorot mata yang penuh kebanggaan, berbicara tentang signifikansi petik laut bagi warganya. Mayangan dikenal sebagai jantung nelayan yang menghidupkan daerah ini.

“Dalam gemuruh ombak dan hembusan angin, kita merayakan anugerah yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Ini adalah ekspresi syukur yang mengalir dari setiap warga Mayangan, terutama nelayan yang menggantungkan hidupnya pada lautan,” paparnya dengan tulus.

“Ini merupakan bentuk syukur kami terhadap rizki yang diberikan Allah SWT. Kami berharap dengan kegiatan ini, nelayan diberikan kemudahan dan keselamatan saat melaut,” jelas Agus, mengungkapkan harapan yang mengalun dalam doa setiap jemarinya.

Namun, sebelum jutaan matahari merangkul permukaan laut, sebelum aroma garam menyatu dengan angin pagi, warga Mayangan telah berkumpul dalam kebersamaan.

Istigasah bersama digelar sebagai langkah awal. Dan tak ketinggalan, pawai budaya turut memeriahkan, diikuti oleh masyarakat dan para nelayan setempat.

Suasana penuh khidmat, seakan memanggil kehadiran berkah Nabi Muhammad SAW untuk meramaikan prosesi petik laut.

Dalam momen istigasah, sesajen yang telah disiapkan mengalir dalam doa. Pada akhirnya, sesajen-sesajen itu dilepas untuk memulai perjalanannya di tengah lautan yang luas.

Suara deburan ombak menjadi saksi bisu, mengantarkan permohonan dan harapan masyarakat Mayangan.

Namun, sebuah aturan tak tertulis berlaku dengan tegas – sesajen tak boleh diambil oleh warga kota. Hanya mereka yang berada di luar kota yang boleh meraihnya.

“Sesajen yang kemudian dibuang di laut jangan sampai diambil lagi oleh warga sendiri yang sudah memberikan pengorbanan tersebut,” Agus menjelaskan dengan serius.

Di tengah keramaian, ia berpesan untuk menjaga kehormatan dan makna dari setiap langkah yang telah diambil.

 

Baca Juga
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Jurnalistik Berkualitas Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!