banner pilkada 2024
banner hut ri

Ini Dia, Parenting Ala Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin

Surabaya – Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin juga mengulas tentang aspek parenting dalam Islam.

Beliau menganggap pendidikan anak sangat penting, karena menurutnya, anak-anak adalah amanah dari Allah kepada kedua orang tua mereka.

Selain tanggung jawab terkait dengan pemenuhan kebutuhan fisik mereka.

Imam Al-Ghazali melihat jiwa anak-anak sebagai lembaran kosong yang belum tergores oleh tulisan atau garis apa pun.

Jiwa mereka siap untuk menerima pengaruh dan panduan apa pun yang tercermin dalam diri mereka.

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali menekankan urgensi peran orang tua dan lingkungan sekitar dalam membentuk dan mengarahkan perkembangan jiwa anak-anak.

اعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه

Artinya, “Ketahuilah cara mendidik anak termasuk masalah yang paling penting dan paling urgen. Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hati mereka suci, mutiara berharga, bersih dari segala ‘ukiran’ dan rupa. Hati anak-anak menerima setiap ‘ukiran’ dan cenderung pada ajaran yang diberikan kepada mereka,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz III, halaman 77).

Imam Al-Ghazali memberikan dua metode pendekatan yang disarankan dalam mendidik anak.

Imam Al-Ghazali menekankan kepada orang tua untuk mengintegrasikan atau menampilkan tindakan positif sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari anak mereka.

Selain itu, Imam Al-Ghazali juga menyarankan orang tua untuk mengajar nilai-nilai kebaikan kepada anak mereka.

Kedua model pendekatan dalam pendidikan anak ini memiliki signifikansi yang sangat penting.

Pertama, melibatkan anak dalam rutinitas kebaikan sehari-hari akan meninggalkan jejak dalam jiwa mereka.

Kedua, mengimplikasikan nilai-nilai kebaikan juga memiliki peran penting dalam membentuk standar kebaikan di dalam jiwa anak.

Imam Al-Ghazali memahami bahwa orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan pola asuh anak-anak mereka.

Ketika orang tua mendidik anak dengan baik, mereka akan mendapatkan pahala.

Sebaliknya, jika mereka mengabaikan pertumbuhan anak mereka, mereka akan memikul dosa yang besar.

Oleh karena itu, orang tua harus tetap berkomitmen untuk memberikan pendidikan, asuhan, dan panduan yang baik kepada anak-anak mereka.

فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له

Artinya, “Jika orang tua membiasakan dan mengajarkan kebaikan, maka anak akan tumbuh dalam kebaikan dan bahagialah orang tuanya di dunia dan akhirat. Ia pun akan mendapat pahala dari amal saleh yang dilakukan anaknya (tanpa mengurangi hak pahala anak). Demikian juga berlaku bagi setiap guru dan pendidik. Jika ia membiasakan keburukan dan membiarkan anaknya seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan celaka dan binasa. Sementara dosanya juga ditanggung pengasuh dan walinya,” (Imam Al-Ghazali, 2018 M/1439-1440 H: III/77).

Imam Al-Ghazali mengutip Al-Qur’an Surat At-Tahrim ayat 6. Menurutnya, Surat At-Tahrim ayat 6 menyiratkan tanggung jawab besar orang tua dalam mendidik, membimbing, dan mengasuh anak.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya, “Wahai orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,” (Surat At-Tahrim ayat 6).

Berdasarkan sejumlah informasi yang telah disampaikan, Imam Al-Ghazali mengingatkan orang tua untuk memberikan perhatian lebih pada pendidikan, bimbingan, dan asuhan anak-anak mereka.

Beliau menegaskan pentingnya tidak mengesampingkan pendidikan agama dan moral dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Baca Juga
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Jurnalistik Berkualitas Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!