banner pilkada 2024
banner hut ri

Krisis Elpiji 3 Kg di Kota Malang, Pembelian di Pangkalan Ada Syaratnya

Salah satu distributor elpiji di Malang

Kota Malang– Beberapa hari terakhir, warga Kota Malang mengeluhkan kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg. Bahkan jika ada stok, harganya dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh para pengecer.

“Sudah beberapa hari ini, mencari elpiji 3 kg sungguh sulit. Saya baru mendapatkannya dengan harga Rp 22 ribu. Teman saya kemarin harus membelinya dengan harga Rp 29 ribu,” ungkap Helmi (30), salah satu warga di Klojen, Kota Malang, pada Rabu (26/7/2023).

Situasi serupa juga dialami oleh Bambang Adi, seorang warga di Jalan Nusakambangan, Kota Malang. Ia harus berkeliling mencari satu tabung gas elpiji 3 kg. Akhirnya, dia berhasil mendapatkan gas elpiji 3 kg setelah mendatangi satu pangkalan di Jalan Nusakambangan dengan syarat menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Sejak kemarin, mencari elpiji sungguh sulit. Pagi tadi, saya berputar-putar. Karena di toko-toko, stoknya sudah habis,” keluh Bambang.

Sumarsih, pemilik pangkalan elpiji 3 kg di Jalan Nusakambangan, menyatakan bahwa stok elpiji sebenarnya aman. Ia mendapatkan dua kali pengiriman setiap pekan, dan dalam satu pengiriman, ia menerima 40 tabung elpiji 3 kg.

“Stok aman, saya mendapatkan pengiriman dua kali seminggu, masing-masing 40 tabung ukuran 3 kg,” jelasnya saat ditemui di lokasi.

Namun, Sumarsih menegaskan bahwa pangkalan tersebut tidak lagi melayani pembelian dari para pengecer atau bagi mereka yang ingin membeli lebih dari satu tabung gas.

Lanjutnya, warga atau rumah tangga hanya dapat membeli satu tabung gas elpiji dengan syarat menunjukkan KTP dan terdaftar di aplikasi milik Pertamina.

“Kami hanya melayani setelah NIK mereka terdaftar di aplikasi tersebut. Jika belum terdaftar, kami tidak bisa melayani,” tegasnya.

Sumarsih menjelaskan bahwa program tepat sasaran untuk pembelian elpiji 3 kg sebenarnya sudah berjalan lama. Namun, karena adanya Pandemi COVID-19, program ini tidak berjalan dengan maksimal.

“Program ini sudah berjalan lama sebenarnya, tetapi akibat Pandemi, pelaksanaannya terhambat. Baru mungkin saat ini program ini diberlakukan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa dia tidak berani melayani pembelian tanpa terdaftar di aplikasi tepat sasaran itu karena akan berisiko menghadapi penutupan pangkalannya oleh agen atau Pertamina jika tertangkap tangan.

“Kami tidak berani melayani pengecer atau warga yang ingin membeli lebih dari satu tabung karena dalam aplikasi tersebut, rumah tangga hanya diizinkan membeli satu tabung saja,” jelasnya.

Baca Juga
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Jurnalistik Berkualitas Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!