

Kupatan Tiga RT di Batangsaren, Dari Dapur Warga hingga Pesan Wabup tentang Rukun, Tradisi seperti ini harus dirawat. Ini bukan hanya soal makan bersama, tapi tentang menjaga persaudaraan,” ujarnya.

Siaranesia.com,Tulungagung — Aroma lodho ayam dan ketupat hangat menyambut siapa pun yang datang ke Dusun Patik, Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung pada Sabtu (29/3/2026).
Sejak sore, warga dari tiga RT sudah sibuk di dapur masing-masing, menyiapkan hidangan terbaik untuk satu tujuan: berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan kupatan bersama.

Di RT 1 yang dikoordinatori Wito, ibu-ibu tampak cekatan menata ketupat dan lauk. Tak jauh dari sana, RT 2 di bawah Edi S. menyiapkan hidangan pelengkap, sementara warga RT 3 yang dipimpin Rokan memastikan lokasi acara siap menyambut tamu. Tiga RT itu seolah melebur tanpa sekat—semua bekerja, semua berbagi.
Dukungan penuh datang dari seluruh warga Dusun Patik, dengan tata suara yang dipercayakan kepada Even Organizer Creatif Tag yang dipandegani Mas Rafi warga setempat yang turut berkontribusi demi kelancaran acara.

Malam pun bergulir hangat. Doa bersama yang dipimpin KH Mashudi menjadi pembuka, disusul gemuruh kembang api yang memecah langit Dusun Patik. Anak-anak bersorak, orang tua tersenyum, dan suasana kebersamaan terasa begitu dekat.
Di tengah keramaian, hadir Wakil Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin. Ia tak sekadar datang, tetapi ikut larut dalam suasana. Menyalami warga satu per satu, ia menyampaikan pesan sederhana namun bermakna: menjaga kerukunan.
“Tradisi seperti ini harus dirawat. Ini bukan hanya soal makan bersama, tapi tentang menjaga persaudaraan,” ujarnya.
Kehadiran Wabup menjadi penegas bahwa apa yang dilakukan warga Dusun Patik bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan fondasi sosial yang kuat. Dari dapur sederhana hingga panggung hiburan rakyat, semua menjadi ruang bertemunya kebersamaan.
Hidangan yang tersaji pun bukan sekadar makanan. Ada cerita di setiap sajian—tentang gotong royong, tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih. Dari sate, bakso, nasi goreng, hingga es segar, semuanya dinikmati bersama tanpa sekat.

Menariknya, kupatan ini tak hanya milik warga Batangsaren. Sejumlah warga dari desa tetangga di Kecamatan Kauman turut hadir, menambah hangat suasana. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati hidangan, tetapi juga merasakan kebersamaan yang jarang ditemukan di tengah kesibukan sehari-hari.
Di balik gemerlap kembang api dan riuh tawa, kupatan masal ini menyimpan makna sederhana: bahwa kebersamaan masih hidup, tumbuh dari hal-hal kecil, dan dirawat oleh warga yang percaya bahwa rukun adalah kekuatan.
Jurnalis: Nang
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau!