
SIARANESIA.com, TULUNGAGUNG, — Kebanggaan kembali datang dari dunia seni Tulungagung. Wishnu Damar Dewangga, siswa kelas 4 SDN Kampungdalem 4, berhasil tampil di panggung nasional setelah menjadi salah satu penari termuda dalam puncak peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Tak berhenti di panggung kenegaraan, kiprah Wishnu berlanjut di layar kaca. Penari cilik tersebut hadir dalam program televisi “Pagi-Pagi Ambyar” dan “Brownis” di TRANS TV.
Putra pasangan Brahmanto Isworo dan Aning Widhyawati yang juga aktif di dunia seni itu memang tumbuh dalam lingkungan budaya. Sejak kecil, Wishnu telah akrab dengan seni tari hingga kemudian bergabung dengan Sanggar Lestari Widodo Wiryotama di Joglo Batangsaren, Kecamatan Kauman.
Di sanggar tersebut, kemampuan Wishnu terus diasah. Ia mengikuti berbagai latihan dan seleksi hingga akhirnya dipercaya lolos mewakili Jawa Timur tampil di Istana Negara.
Kepala SDN 4 Kampungdalem, Ade Irma Salekah, menilai Wishnu merupakan anak yang lincah, rajin, serta mudah beradaptasi. Prestasinya di bidang seni juga bukan muncul secara instan.
Tahun sebelumnya, Wishnu aktif mengikuti berbagai lomba, mulai dari senam, tari, hingga seni budaya. Prestasi tersebut diraihnya dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
“Harapan kami, selain berprestasi di bidang seni, anak-anak tetap rajin belajar, bijak menggunakan media sosial, dan terus melestarikan budaya lokal,” ujarnya.
Menurut Ade, sekolah juga berupaya menanamkan kecintaan terhadap budaya dan nasionalisme melalui kebiasaan sederhana. Setiap hari, para siswa dibiasakan menyanyikan lagu-lagu nasional maupun lagu daerah.
Langkah tersebut dinilai penting di tengah derasnya arus budaya populer dan lagu-lagu viral di media sosial. Anak-anak diharapkan tetap mengenal identitas budaya daerah sekaligus memiliki rasa cinta terhadap bangsa.
Selain Wishnu, dua penari asal Tulungagung juga turut tampil dalam agenda di Istana Negara, yakni Ivan Dwi Kurniawan dari Universitas Bhineka PGRI dan Wijaya Gusti dari SMA Katolik Tulungagung.
Kehadiran tiga talenta muda tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Tulungagung memiliki potensi besar di bidang seni dan budaya.
Wishnu menjadi salah satu gambaran bagaimana generasi muda daerah dapat menembus panggung nasional tanpa meninggalkan akar budayanya. Prestasinya lahir dari perpaduan kerja keras, dukungan keluarga, pembinaan sanggar, serta lingkungan sekolah yang memberikan ruang bagi pengembangan bakat.
Di tengah perkembangan zaman, kisah Wishnu menjadi pesan bahwa prestasi dan pelestarian budaya tidak harus dipertentangkan. Anak-anak Tulungagung dapat tumbuh berprestasi di panggung nasional sekaligus tetap mengenal, mencintai, dan menjaga tradisi daerah.
Jurnalis: Nangkho
Siaranesia.com


