Percikan Api di Ruang Anggrek: Dugaan Kelalaian Alat Terapi di RSUD dr. Iskak

dr. Zuhrotul Aini, Sp.A, M.Kes , Direktur RSUD dr. Iskak Kabupaten Tulungagung , Jawa Timur.

Siaranesia, Tulungagung – Pagi di ruang Anggrek Cris 1 RSUD dr. Iskak Tulungagung itu semula berjalan seperti biasa. Seorang pasien yang tengah menunggu operasi amputasi lutut akibat komplikasi diabetes bersiap menjalani terapi infra red, prosedur rutin yang lazim diberikan sebelum tindakan medis. Namun beberapa saat setelah alat dinyalakan, suasana ruang perawatan berubah tegang.

Menurut keterangan yang dihimpun dari keluarga pasien, kabel alat terapi infra red tiba-tiba terbelit. Dalam hitungan detik, percikan api muncul akibat korsleting listrik. Api kecil itu menyambar tangan pasien yang sedang terbaring, menyebabkan luka bakar hingga kulitnya melepuh.

Insiden tersebut terjadi hanya beberapa jam sebelum pasien dijadwalkan menjalani operasi amputasi kaki.
“Awalnya hanya terapi biasa. Tiba-tiba ada percikan api dan mengenai tangan pasien,” ujar salah satu anggota keluarga yang berada di ruang perawatan saat kejadian.
Bagi keluarga, peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan teknis. Mereka menilai kejadian tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap penggunaan alat medis di ruang perawatan.

Versi Rumah Sakit
Manajemen RSUD dr. Iskak menyebut insiden itu sebagai kecelakaan. Direktur RSUD dr. Iskak dr. Aini melalui Kepala Humas rumah sakit, Trise, menyampaikan bahwa keluarga pasien telah menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut pihak rumah sakit.
“Itu murni kecelakaan, bukan kesengajaan,” kata Trise saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Pihak rumah sakit tidak merinci secara detail penyebab teknis korsleting alat terapi tersebut maupun langkah evaluasi yang dilakukan setelah kejadian.

Cerita Berbeda dari Keluarga
Pernyataan manajemen rumah sakit itu tidak sepenuhnya sejalan dengan cerita keluarga pasien. Mereka mengaku kecewa dengan insiden tersebut dan menilai rumah sakit seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap keselamatan pasien.

Menurut mereka, peralatan medis yang digunakan seharusnya berada dalam kondisi aman dan diawasi secara ketat oleh tenaga medis.
“Kalau sampai ada kabel terbelit dan terjadi korsleting, itu seharusnya bisa dicegah,” kata salah satu anggota keluarga pasien.

Kekhawatiran Pasien Lain
Insiden ini juga memicu keresahan di kalangan pasien lain yang berada di ruang perawatan yang sama. Beberapa keluarga pasien mengaku mulai mempertanyakan standar keamanan alat medis yang digunakan di rumah sakit tersebut.

RSUD dr. Iskak selama ini dikenal sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah selatan Jawa Timur. Bahkan, manajemen rumah sakit kerap menyebut pelayanan di rumah sakit itu mengacu pada standar profesional bertaraf internasional.

Namun insiden korsleting alat terapi ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai pengawasan peralatan medis dan prosedur keselamatan pasien.

Jika benar korsleting terjadi akibat kelalaian dalam penggunaan atau pemeriksaan alat, maka persoalannya tidak hanya berhenti pada satu kejadian. Ia menyentuh isu yang lebih luas: standar keselamatan pasien di fasilitas kesehatan.

Bagi keluarga pasien yang menjadi korban, percikan api di ruang terapi itu bukan sekadar insiden kecil. Di tengah persiapan operasi besar yang akan menentukan masa depan hidup pasien, kejadian itu menjadi pengalaman yang menambah trauma di ruang yang seharusnya paling aman bagi orang sakit.

Jurnalis: Nanang NK/Red

Baca Juga
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Jurnalistik Berkualitas Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!